Header Ads Widget

Sepenggal Cerita Seorang Guru

Ticker

6/recent/ticker-posts

Praktik Baik Pembelajaran Mendalam melalui Kegiatan Kokurikuler Permakultur untuk Membangun Karakter Gapura Panca Waluya

Nevi Nurzaman

SMAN 1 Rancaekek Kabupaten Bandung

 

A.  Pendahuluan

Negara Indonesia menghadapi berbagai tantangan di masa depan yang menuntut persiapan yang sangat serius terutama pada sektor pendidikan. Berbagai tantangan tersebut meliputi kehidupan masyarakat yang akan semakin kompleks, dinamis, tidak pasti, tak terduga dan ambigu yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada saat yang sama, kehidupan masyarakat akan semakin diwarnai keberagaman yang menyebabkan rentan konflik kepentingan. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia saat ini perlu segera menyiapkan murid agar mampu mandiri, mampu menghadapi tantangan, mengatasi rintangan, dan bahkan menjadi agen perubahan yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam mewujudkan impian tersebut generasi muda Indonesia perlu dididik agar ulet dan memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi tantangan dan mengatasi konflik, adaptif, serta memiliki pola pikir bertumbuh (growth mindset) agar cekatan memanfaatkan peluang, mampu menerima kritik, serta meyakini dirinya memiliki potensi dan bakat untuk berkembang. Dengan demikian, visi Indonesia tahun 2045 menjadi Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dapat tercapai. Diperlukan inisiatif dan upaya yang lebih kuat serta kreatif melalui berbagai pendekatan pembelajaran untuk mencapai visi tersebut, salah satunya dengan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam.

Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan pembelajaran yang mendorong murid membangun pemahaman secara utuh melalui keterkaitan konsep, pengalaman belajar, dan penerapannya dalam berbagai situasi nyata. Dengan demikian, pembelajaran diharapkan aplikatif dan bermanfaat dalam kehidupan murid. Pembelajaran mendalam menempatkan murid sebagai pusat dari proses kegiatan belajar mengajar, dengan menciptakan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Pendekatan ini semakin relevan dalam menghadapi dunia yang penuh kompleksitas dan ketidakpastian, dengan cara mengintegrasikan olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu. Pembelajaran mendalam tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan empati, sehingga murid tumbuh menjadi individu yang utuh dan selaras dengan tuntutan global (Suyanto dkk., 2025).

Dalam implementasinya, proses pembelajaran dengan pendekatan ini dapat dilakukan pada kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler. Dalam dunia pendidikan, kegiatan belajar mengajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi sejatinya lingkungan sekolah merupakan tempat pembelajaran yang bisa memperkaya pemahaman dan pengalaman nyata bagi murid. Di sinilah peran kegiatan kokurikuler menjadi sangat penting. Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi, terutama penguatan karakter. Kokurikuler dirancang dalam upaya mewujudkan visi Indonesia tahun 2045 sebagai bangsa yang cerdas dan maju serta pendidikan bermutu untuk murid. Komitmen ini tidak cukup diwujudkan hanya melalui pengalaman belajar intrakurikuler dan ekstrakurikuler saja, tetapi juga perlu diperkuat melalui kegiatan kokurikuler yang dilakukan secara sistematis, bermakna, dan kontekstual.

Kegiatan kokurikuler berfungsi sebagai penghubung antara pengetahuan yang diperoleh murid di dalam kelas dengan penerapannya dalam situasi kehidupan nyata. Melalui pengalaman belajar yang kontekstual, murid memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensi secara menyeluruh sesuai dengan delapan dimensi profil lulusan. Selain memperkuat penguasaan kompetensi, kokurikuler juga membangun ekosistem pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), menyenangkan (joyful), dan mendorong murid berkembang sebagai pribadi yang utuh. Dalam pelaksanaannya, murid tidak hanya memahami konsep secara teoretis, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar yang melibatkan aspek emosional dan sosial melalui kegiatan memahami, menerapkan, merefleksikan, serta mengambil tindakan nyata. Keterlibatan dalam proyek tematik, penyelesaian permasalahan berbasis konteks, dan berbagai bentuk pengabdian kepada lingkungan menjadi pengalaman belajar yang mengintegrasikan dimensi intelektual, etika, estetika, dan kinestetik secara seimbang (Purnamasari dkk., 2025).

Dalam upaya mewujudkan generasi emas 2045, kegiatan kokurikuler diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Di SMAN 1 Rancaekek dengan kondisi lahan yang belum maksimal terpakai untuk proses pembelajaran serta banyaknya sisa limbah organik dari makan bergizi gratis, diperlukan suatu kegiatan kokurikuler untuk mengatasi permasalah tersebut. Sehingga sekolah memilih salah satu solusi yang relevan untuk kegiatan kokurikuler yaitu dengan proyek permakultur yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam praktik pembelajaran berbasis keberlanjutan.

Permakultur sendiri merupakan kegiatan pertanian berkelanjutan yang diinisiasi oleh Bill Mollison dan David Holmgren pada tahun 1970. Sistem permakultur mengintegrasikan berbagai komponen ekologi yang diimplementasikan pada kegiatan berbasis pertanian, peternakan, perikanan, pengelolaan kehutanan, dan pemanfaatan sumber daya alam terbarukan (Putryana dkk., 2020). Penerapan permakultur mampu menciptakan manfaat bagi kehidupan manusia terutama pemanfaatan lahan kosong yang tidak terpakai di sekolah. Permakultur menekankan pada pengoptimalan penggunaan sumber daya alam yang mengikuti pola alami suatu ekosistem dengan memanfaatkan sumber daya pada konteks lokal secara berkelanjutan (Didarali dan Gambiza, 2019).

Sejalan dengan visi pendidikan di Provinsi Jawa Barat untuk mendukung pencapaian visi Indonesia tahun 2045, kegiatan kokurikuler yang dirancang oleh sekolah memiliki tujuan untuk mewujudkan murid yang memiliki karakter gapura panca waluya. Berdasarkan penjelasan dari pedoman yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 2025, implementasi kegiatan kokurikuler dalam proses pembelajaran di sekolah harus mewujudkan murid yang memiliki lima pilar karakter utama di antaranya:

1.    Cageur (being) yaitu murid yang memiliki karakter sehat jasmani dan rohani.

2.    Bageur (relating) yakni murid harus memiliki karakter berakhlak mulia, peduli terhadap sesama dan lingkungan.

3.    Bener (thinking) merupakan proses pembentukan karakter murid yang berpikir kritis, jujur, disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.

4.    Pinter (collaboration) dalam implementasinya seorang murid harus cerdas, komunikatif, berkolaborasi dan berwawasan kebangsaan.

5.    Singer (action) merupakan tindakan nyata seorang murid yang memiliki karakter kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan sosial.  

Karakter gapura panca waluya menjadi tujuan pembelajaran pada kegiatan ini. Karakter ini juga selaras dengan 8 dimensi profil lulusan yang menjadi landasan utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, keterampilan hidup, dan kemampuan beradaptasi di era global. Selain itu juga karakter gapura panca waluya selaras dengan kerangka kompetensi global Inner Development Goals (IDGs) yang menekankan pengembangan diri sebagai fondasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam mendukung visi Indonesia tahun 2045 yang berdaulat, adil, dan makmur. Berdasarkan uraian di atas, penulis melaksanakan praktik baik pembelajaran mendalam melalui kegiatan kokurikuler permakultur untuk membangun karakter gapura panca waluya dengan memanfaatkan lahan sumber belajar yang belum dimanfaatkan secara optimal serta menanggulangi sampah organik dari sisa makanan bergizi gratis. Kegiatan kokurikuler berbasis permakultur yang dilakukan tidak hanya mengoptimalkan lingkungan sekolah, tetapi juga memperkuat karakter murid melalui pengalaman belajar yang autentik.

 

B.  Pembahasan

Praktik baik yang telah di implementasikan ini dilakukan dalam beberapa tahap di antaranya:

1.    Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan permakultur ini diikuti oleh seluruh murid kelas 10 sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran mendalam dalam bentuk kokurikuler yang didampingi oleh koordinator kokurikuler, wali kelas, guru mata pelajaran dan pembimbing teknis dari guru mata pelajaran biologi. Adapun waktu pelaksanaannya dimulai dari tanggal 4 Mei sampai dengan 13 Mei 2026 yang bertempat di beberapa lokasi di antaranya yang pertama berlokasi di belakang kelas 11 K sampai kelas 12 MIPA 5, lokasi kedua di halaman masjid, lokasi ketiga di belakang kelas 10 K sampai belakang greenhouse dan lokasi keempat dari sisi luar dan sisi dalam greenhouse.

2.    Observasi Lahan Permakultur

Berdasarkan hasil observasi, keempat lokasi di lingkungan SMAN 1 Rancaekek memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda untuk dikembangkan sebagai kawasan permakultur. Lokasi pertama cocok sebagai area pertanian urban berbasis pot dan irigasi hemat air meskipun menghadapi kendala paparan sinar matahari yang tinggi dan serangan hama burung. Lokasi kedua berpotensi menjadi kawasan pengelolaan air, limbah, dan tanaman obat, namun memerlukan penataan kebersihan serta optimalisasi fasilitas yang ada. Lokasi ketiga memiliki potensi sebagai kebun pangan terpadu dan area konservasi, tetapi membutuhkan penataan lahan dan pemanfaatan barang bekas secara lebih efektif. Sementara itu, Lokasi keempat perlu penghijauan melalui penanaman tanaman rambat untuk meningkatkan fungsi greenhouse sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih asri dan berkelanjutan.

3.    Desain dan Persiapan Media Tanam Permakultur

Pembagian area permakultur di SMAN 1 Rancaekek disesuaikan dengan tingkat intensitas pemeliharaan dan karakteristik setiap tempat. Lokasi pertama dikembangkan untuk budidaya cabai menggunakan pot self-watering sistem sumbu agar kebutuhan penyiraman lebih efisien, dengan media tanam berupa campuran tanah lembang, sekam bakar, dan kotoran kambing. Lokasi kedua dimanfaatkan untuk budidaya sayuran yang toleran terhadap kondisi teduh serta budidaya ikan, menggunakan lahan yang digemburkan dan diperkaya campuran tanah lembang, sekam bakar, dan kotoran kambing. Lokasi ketiga dikembangkan sebagai area budidaya sayuran dan tanaman umbi pada lahan teduh dengan perlakuan media tanam yang sama, yaitu tanah yang digemburkan dan ditambahkan tanah lembang, sekam bakar, serta kotoran kambing. Sementara itu, lokasi keempat difokuskan untuk penanaman tanaman rambat, seperti timun, pare, kacang panjang, dan buncis pada sisi luar greenhouse, serta berbagai varietas anggur pada sisi dalam greenhouse, menggunakan pot self-watering sistem sumbu dengan media tanam campuran tanah lembang, sekam bakar, dan kotoran kambing guna mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.

4.    Proses Permakultur

Setelah observasi lahan, persiapan desain dan media tanam selesai, selanjutnya murid melakukan proses di berbagai lokasi yang telah ditentukan sebelumnya. Seperti di Lokasi pertama, murid melakukan penanaman berbagai benih cabai dan tanaman pendamping pengusir hama tanaman cabai serta penyubur tanaman cabai seperti bawang putih, bawang merah, bawang daun, serei, kemangi, dan bunga matahari. Lokasi kedua, murid menanam benih berbagai sayuran yang cocok tumbuh di tempat teduh tanpa sinar matahari langsung seperti selada, bayam, sawi hijau, sawi putih, brokoli, seledri, dan kangkong serta budidaya lele dan ikan nila. Lokasi ketiga, murid menanam benih berbagai sayuran dan umbi di tempat teduh dengan sinar matahari langsung seperti wortel, lobak, kentang, talas, ketela pohon, pisang dan ubi jalar. Lokasi keempat, murid menggunakan pot self-watering sistem sumbu dalam proses penyiraman benih tanaman rambat timun pare, kacang panjang dan buncis di bagian sisi luar dan tanaman rambat berbuah seperti bermacam-macam anggur untuk di bagian sisi dalam greenhouse.

5.    Pembuatan Pupuk Organik untuk Tanaman Permakultur

Selain pembuatan permakultur murid juga membuat pupuk kompos cair dan padat, eco enzyme dari berbagai sumber sampah organik yang ada di sekolah seperti sampah sisa makanan bergizi gratis, daun kering, sisa kupasan buah dan sayuran dari limbah sekitar kantin, limbah sekam, dan kotoran kambing dari pertanian padi warga sekitar sekolah. Selain sampah organik, murid juga mengolah sampah anorganik menjadi barang yang lebih berguna seperti membuat tempat sampah khusus sisa makanan bergizi gratis, tempat membuat eco enzyme dan media budidaya maggot yang berasal dari limbah bekas galon air mineral 15 liter, serta media membuat inokulan dan pupuk kompos padat dari karung bekas tanah.

6.    Hasil Kegiatan Kokurikuler

Setelah kegiatan kokurikuler permakultur selesai dilakukan, sekolah memiliki berbagai tanaman pertanian yang ada di beberapa tempat. Lokasi pertama terdapat 250 tanaman cabai dibantu dengan media pot self-watering sistem sumbu agar tidak perlu menyiram setiap hari. Lokasi kedua menghasilkan tanaman sayuran tempat teduh di halaman masjid dan budidaya ikan lele dengan jumlah bibit 120 ekor bibit lele, 60 ekor bibit nila hitam, serta 60 ekor bibit nila merah. Lokasi ketiga menghasilkan tanaman sayuran dan umbi serta lokasi keempat terdapat 300 pot tanaman yang terdiri dari benih rambat timun pare, kacang panjang dan buncis di bagian sisi luar dan tanaman rambat berbuah seperti bermacam-macam anggur untuk di bagian sisi dalam greenhouse. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kokurikuler permakultur tidak hanya menghasilkan produk nyata berupa kawasan pertanian sekolah, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang kontekstual. Murid terlibat secara aktif dalam proses identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi sehingga mampu mengembangkan kompetensi abad ke-21 sekaligus karakter gapura panca waluya.

 

C.  Penutup

Praktik baik kokurikuler permakultur di SMAN 1 Rancaekek berjalan dengan sukses dan berkelanjutan karena semua pihak bekerja secara maksimal dalam mencapai tujuan pembelajaran untuk mengembangkan karakter gapura panca waluya setiap murid sehingga ke depannya visi Indonesia tahun 2045 menjadi Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dapat terwujud. Pada kegiatan ini, murid tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis dan membangun karakter, tetapi juga keterampilan praktis dalam menjaga ketahanan pangan skala kecil yang dimulai dari lingkungan sekolah tempat mereka belajar secara langsung (kontekstual). Selain itu, dilakukan juga kegiatan pembiasaan membuang sampah sesuai klasifikasi sampah. Untuk keberlangsungan ke depannya dibentuk jadwal piket rutin lintas kelas yang bertugas menjaga tanaman permakultur agar tidak terbengkalai setelah proyek kokurikuler selesai.

Praktik baik ini dapat direplikasi oleh sekolah lain dengan menyesuaikan karakteristik lingkungan, potensi lahan, serta kebutuhan murid. Keberhasilan implementasi sangat dipengaruhi oleh kolaborasi antara guru, murid, tenaga kependidikan, dan masyarakat sekitar sehingga keberlanjutan program dapat terus terjaga. Adapun dokumen pendukung dan dokumentasi kegiatan praktik baik pembelajaran mendalam melalui kegiatan kokurikuler permakultur untuk membangun karakter gapura panca waluya dapat dilihat pada link drive berikut ini: https://drive.google.com/drive/folders/1PmLK-RW4UcC3cbbzuuftbtKq8nxdb5oT

 

 

 

D.  Daftar Pustaka

Didarali, Z., Gambiza, J. 2019. Permaculture: Challenges and benefits in improving rural livelihoods in South Africa and Zimbabwe. Sustainability (Switzerland), 11(8). https://doi.org/10.3390/su11082219

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. 2025. Pedoman Pendidikan Karakter Pancawaluya. Bandung: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Purnamasari, Nina, dkk. 2025. Panduan Kokurikuler Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Jakarta: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Putryana, O., Nugroho, P. S., dan Musyawaroh. 2020. Penerapan Konsep Permaculture Pada Perancangan Pusat Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Lahan Kering. Jurnal SENTHONG, 3(2), 357–368.

Suyanto, dkk. 2025. Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar